Rabu, 13 November 2013

JURNAL 6: PENGARUH PENDAPATAN TENAGA KERJA PEREMPUAN PENJUAL JAGUNG REBUS TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA DI KELURAHAN PATTALLASSANG KECAMATAN PATTALLASSANG KABUPATEN TAKALAR

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Pendapatan Tenaga Kerja Perempuan Penjual Jagung Rebus Terhadap Pendapatan Rumah Tangga di Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak pemerintah, tenaga kerja perempuan, dan peneliti selanjutnya.
Penelitian ini menggunakan pendapatan tenaga kerja perempuan penjual jagung rebus sebagai variabel bebas dan pendapatan rumah tangga sebagai variabel terikat. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan perempuan penjual jagung rebus di Kabupaten Takalar yaitu sebanyak 56 orang dan sampel penelitiannya ditetapkan sejumlah 28 orang. Untuk memudahkan pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik observasi, dokumentasi, dan wawancara. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi sederhana.
Hasil analisis dalam penelitian ini merumuskan bahwa pertama: Pendapatan tenaga kerja perempuan penjual jagung rebus berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan rumah tangga di Kelurahan Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar karena nilai T-hitung lebih besar dari nilai T-tabel (17,848 > 1,68) dan nilai signifikansi < dari 0,05. Kedua; kontibusi pengaruhnya adalah sekitar 93%.
Kata kunci: Pendapatan Tenaga Kerja Perempuan; Pendapatan Rumah Tangga
A. Latar Belakang
Perempuan adalah pengelola rumah tangga, dialah yang tahu seberapa besar pula penghasilan yang diperoleh kepada Rumah Tangga. Jika perempuan memilih bekerja pasti karena penghasilan dari kepala rumah tangga tidak mencukupi tingkat partisipasi perempuan dalam membantu ekonomi rumah tangga akan semakin jelas nampak di daerah pedesaan, dimana umumnya sumber penghasilan pokok rumah tangga adalah petani dan nelayan.
Kabupaten Takalar salah satu kabupaten yang sangat terkenal dengan jagungnya yang  memungkinkan untuk berbagai usaha yang bahan bakunya adalah  jagung, termasuk yang sangat  terkenal adalah usaha jagung rebus. Tenaga Kerja yang digunakan adalah perempuan baik yang sudah menikah maupun belum menikah dan berada di sekitar lokasi. Berdasarkan pengamatan dan hasil wawancara jumlah  perempuan penjual jagung  rebus di Kelurahan Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar.
Bekerja sebagai tenaga kerja penjual jagung rebus merupakan salah satu alternatif dalam membantu ekonomi rumah tangga di tengah himpitan kebutuhan yang semakin meningkat. Harapan akan memperoleh kesejahteraan mereka rela meninggalkan tugas-tugas domestik di rumah walau hanya dengan bermodalkan tenaga dan ketekunan. Melalui hari-hari berhadapan dengan tumpukan jagung rebus, walau dengan  pendapatan yang tidak menentu jumlahnya setiap harinya.
Terkait dengan masalah partisipasi perempuan dalam  membantu ekonomi rumah tangga, maka penulis mencoba melakukan penelitian dengan  mengangkat  judul “Pengaruh Pendapatan Tenaga Kerja Perempuan Penjual Jagung Rebus terhadap Pendapatan Rumah Tangga di Kelurahan Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar”.
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan dari  latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka yang menjadi  masalah pokok  dalam  penelitian  ini adalah: “Apakah pendapatan tenaga kerja perempuan penjaual jagung rebus mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Pendapatan Rumah Tangga di Kelurahan Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar”.
C.  Tinjauan Teori
1.      Konsep Pendapatan
Pendapatan merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan dalam Rumah Tangga. Adanya ketidakseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran dalam Rumah Tangga akan menjadi sumber masalah-masalah yang lain.
Menurut Ukkas dalam Ulfa (2003: 16)
Pendapatan adalah suatu penghasilan bersih yang diperoleh para tenaga kerja di nilai dengan uang termasuk didalamnya upah tenaga buruh pada suatu perusahaan, baik perhitungan upah menurut waktu, upah menurut kesatuan hasil, maupun sistem premi (sistem borongan).
Hal di atas menunjukkan bahwa penghasilan harus di ukur berdasarkan uang, yang menunjukkan bahwa pendapatan itu pada hakikatnya akan menambah kekayaan individu atau kelompok yang dapat diperoleh dari berbagai jenis pekerjaan yang diusahakannya.
Menurut Winardi dalam Ulfa (2003: 7)
Cara normal untuk memperoleh pendapatan terdiri dari pada tindakan melakukan prestasi-prestasi ekonomis, bernilai, dengan kata lain jika menyelenggarakan jasa-jasa atau memproduksi benda-benda untuk mana terdapat permintaan bertenaga beli.
Pembelian Barang dan Jasa

Gambar 1. Siklus Aliran Pendapatan
Sumber: Pratama Rahardja dan Mandala Manurung (2002:205)
Model Circular Flow membagi perekonomian menjadi empat sektor:
  • Sektor Rumah Tangga (Households sector), yang terdiri atas sekumpulan individu yang dianggap homogen dan identik.
  • Sektor Perusahaan (Firms sector), yang terdiri atas sekumpulan perusahaan yang memproduksi barang dan jasa.
  • Sektor pemerintah (Government Sector), yang memiliki kewenangan politik untuk mengatur kegiatan masyarakat dan perusahaan.
  •  Sektor luar negeri (foreign Sector), Yaitu sektor perekonomian dunia, dimana perekonomian melakukan transaksi ekspor-impor.
1.      Definisi Tenaga Kerja
Dalam undang-undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan pasal 1, dijelaskan bahwa:
  1. Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja.
  2. Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.
  3. Pekerja atau buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.
Khusus untuk tenaga kerja perempuan diatur dalam pasal 76 UU. No.13 Thn.2003 tentang ketenaga kerjaan yaitu:
  1. Pekerja buruh perempuan yang berumur kurang dari 18 (delapan belas) tahun dilarang dipekerjakan antara pukul 23.00 s.d. 07.00.
  2. Pengusaha dilarang mempekerjakan pekerja/ buruh perempuan hamil yang menurut keterangan dokter berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kandungannya maupun dirinya apabila bekerja antara pukul 23.00 s.d pukul 07.00.
  3. Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan antara pukul 23.00 s.d. pukul 07.00 wajib:
1.   Memberikan makanan dan minuman bergizi; dan
2.      Menjaga kesusilaan dan keamanan selama di tempat kerja.
  1. Pengusaha wajib menyediakan angkutan antar jemput bagi pekerja /buruh perempuan yang berangkat dan pulang kerja antara pukul 23.00 s.d. pukul 05.00.
  2. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) diatur dengan keputusan menteri.
Pada awalnya, peningkatan  upah akan menambah alokasi waktu untuk bekerja, karena biaya kesempatan dari tidak bekerja makin mahal. Penawaran tenaga kerja pun meningkat. Tetapi sampai tingkat upah tertentu (W*), seseorang merasakan waktu nilai hidupnya (utilitas hidupnya) telah menurun karena hampir seluruh waktu nilai untuk bekerja. Akhirnya dia merasa biaya kesempatan dari bekerja amat mahal. Lalu diagram tentang kurva penawaran tenaga kerja yang melengkung  membalik (backward bending labour supply curve). Penawaran total tenaga kerja adalah total penawaran individu (Diagram)
Kurva Penawaran Tenaga Kerja Individu dan Pasar

Gambar 1.2. Kurva Penawaran Tenaga Kerja Individu Dan Pasar
Sumber : Pratama Rahardja dan Mandala Manurung (2002:192)
Dalam masyarakat yang miskin, kurva penawaran tenaga kerja dapat bersudut kemiringan (Slope) Negatif. Jika upah makin rendah, penawaran tenaga kerja makin W1, penghasilan yang diterima seseorang anggota keluarga miskin (misalnya Sang ayah) tidak mencukupi untuk membiayai hidup keluarga. Pada tingkat upah tersebut. Akibatnya anggota keluarga yang lain (Ibu) harus ikut bekerja. Tetapi karena produktivitas ibu lebih rendah dari ayah, maka upah yang diperoleh lebih (W2); jumlah jam kerja yang ditawarkan 1112, dengan jumlah upah sebanyak 11BCL2. Bila  jumlah upah yang dikumpulkan ayah dan ibu tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga, maka anak-anak, bahkan yang masih di bawah usia kerja (<10 tahun), terpaksa bekerja. Upah yang diterima anak-anak jauh lebih kecil dari ayah dan ibunya (yaitu W3), karena produktivitasnya lebih rendah dari mereka; jumlah jam kerjanya 1213, dengan jumlah upah yang diterima si anak 12DE3. Total upah yang diterima keluarga itu 0W1ABCDEI3.
Kurva Penawaran Tenaga Kerja Keluarga Miskin

Gambar 1.3. Kurva Penawaran Tenaga Kerja Keluarga Miskin
Sumber : Pratama Rahardja dan Mandala Manurung (2002:192)
Menurut Panyaman J. Simanjuntak dalam Lalu Husni (2001:10):
Tenaga kerja atau manpower adalah mencakup penduduk yang sudah atau sedang bekerja, yang sedang mencari kerja yang melakukan pekerjaan lain seperti sekolah dan mengurus rumah tangga. Sedangkan untuk kepentingan sensus Indonesia tenaga kerja dibatasi usia antara 15(lima belas) sampai 55(lima puluh lima) tahun.
Berdasarkan berbagai defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang dalam batas usia 15 (lima belas) sampai dengan 55(lima puluh lima tahun) yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.
1.      Latar Belakang Perempuan Bekerja
Perempuan sebagai tenaga kerja sekalipun di negara maju ternyata memperoleh lapangan kerja yang lebih terbatas daripada pria. 37% perempuan yang bekerja pada lapangan kerja yang terorganisasi hanya terkonsentrasi pada 25 lapangan kerja, dimana lapangan kerja itu hanya dapat dimasuki oleh sedikit pria. Sementara itu, terdapat kurang lebih 300 lapangan kerja untuk pria, yang hanya dapat dimasuki oleh sangat sedikit perempuan. Pekerjaan perempuan selalu di hubungkan dengan sektor domestik yang memerlukan keahlian manual.
Bagi perempuan dalam Rumah Tangga miskin, bekerja bukan merupakan tawaran, tapi strategi untuk menopang hidup bagi Rumah Tangga yang tidak memiliki akses tanah. Perempuan pedesaan berbondong- berbondong mencari kerja diluar sektor pertanian menurut Irwan Abdullah (2006:220) karena:
  1. Di daerah pertanian terjadi maskulinisasi (akibat dari revolusi hijau, teknologi mekanis, rekayasa sosial dan sebagainya).
  2. Sempitnya lahan pertanian.
  3. Meningkatnya pendidikan perempuan sehingga mereka gengsi, malu dan enggan untuk mengerjakan lahan pertanian
Keterbatasan perempuan sebagai individu (human capital) dalam hal pendidikan, pengalaman dan keterampilan kerja, kesempatan kerja dan faktor dan faktor ideologis, menyebabkan perempuan memasuki lapangan kerja yang berupah rendah Sehingga kemungkinan besar perempuan mengalami eksploitasi. Faktor-faktor tersebut saling berkaitan bagaikan lingkaran yang tidak pernah terselesaikan.
Untuk menerangkan kaitan antara perempuan dan kesempatan kerja menurut Wolf  dalam Irwan Abdullah (2006:221) ada tiga perspektif yaitu:
Perspektif integrasi, yang beranggapan bahwa pembangunan dapat memberikan peluang kerja bagi perempuan. Oleh karena itu jika perempuan diberi kesempatan dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik mereka dapat sejajar dengan kedudukan pria. Kedua, perspektif marjinalisasi, mangacu pada paham bahwa pembangunan kapitalis akan menggusur perempuan dari kegiatan inti ekonomi pinggiran, bahkan perempuan dapat didepak keluar sama sekali dari hubungan produktif. Ketiga, perspektif eksploitasi, beranggapan bahwa eksploitasi adalah produk modernisasi yang menekankan akumulasi modal oleh para kapitalis. Hal ini menyebabkan upah rendah, kondisi kerja buruh serta jaminan sosial rendah bagi pekerja perempuan.
 Kerangka Pikir
Berikut ini disajikan kerangka berpikir dalam bentuk skema:

Hipotesis
Berdasarkan  rumusan masalah dan kerangka pikir yang dikemukakan sebelumnya maka hipotesis yang diajukan adalah: “Pendapatan  tenaga kerja perempuan penjual jagung rebus mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan keluarga di Kelurahan Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar”.
METODE PENELITIAN
A.    Variabel dan Desain Penelitian
1.      Variabel Penelitian
Dengan demikian, penelitian ini melibatkan dua variabel yaitu pendapatan tenaga kerja perempuan sebagai variabel bebas (X) dan pendapatan rumah tangga sebagai variabel terikat (Y).
2.      Desain Penelitian
Adapun desain dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

B. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Definisi variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Pendapatan tenaga Kerja perempuan adalah jumlah penghasilan yang diperoleh tenaga kerja perempuan sebagai penjual jagung rebus baik yang sudah menikah maupun yang belum menikah dalam satu bulan.
  2. Pendapatan Rumah Tangga adalah keseluruhan jumlah pendapatan dalam rumah tangga dalam satu bulan.
C. Populasi dan Sampel
1.      Populasi
Populasi penelitian ini adalah keseluruhan perempuan perempuan penjual jagung rebus di Kelurahan Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar yaitu sebanyak 52 orang.
2.  Sampel
Peneliti menetapkan jumlah sampel seperdua dari jumlah populasi yaitu 26 orang dengan menggunakan teknik Simple Random Sampling karena populasinya homogen.
D. Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut :
  1. Observasi, yaitu cara pengumpulan data melalui pengamatan gejala yang nampak dalam objek penelitian.
  2. Dokumentasi, yaitu cara pengumpulan data yang digunakan untuk mendapatkan data sekunder terutama yang berkaitan dengan objek penelitian.
  3. Wawancara, yaitu mengumpulkan data dengan mengajukan pertanyaan kepada setiap responden agar data yang diperoleh tidak bias.
E. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh peneliti yaitu untuk mengetahui: apakah pendapatan tenaga kerja perempuan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan rumah tangga. Maka untuk menguji hipotesis di gunakan teknik analisis regresi linear sederhana sebagaimana di kemukakan oleh Sugiyono (2002: 244) dengan formulasi sebagai berikut:
Ŷ = bo + b1X
Dimana:
Ý   = Besarnya pendapatan rumah tangga
a    = Nilai konstanta
b    = Koefisien regresi
x    = Pendapatan tenaga kerja perempuan
Hasil Analisi dan Pembahasan
Pengukuran pengaruh pendapatan tenaga kerja perempuan penjual jagung rebus terhadap pendapatan rumah tangga di Kelurahan Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar dilakukan dengan analisis regresi sederhana. Adapun perhitungannya adalah sebagai berikut:
1)  Uji Signifikansi (Uji-t)
Berdasarkan analisis uji-t diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 1. Uji-t. Uji Signifikansi Pendapatan Tenaga Kerja Perempuan Penjual Jagung Rebus (X) terhadap Pendapatan Rumah Tangga (Y) di Kelurahan Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar

Tabel tersebut di atas menunjukkan bahwa nilai T-hitung lebih besar dari nilai T-tabel (17,848 > 1,68) dan nilai signifikansi < dari 0,05. Sehingga dapat dijelaskan bahwa pendapatan tenaga kerja perempuan penjual jagung rebus berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan rumah tangga di Kelurahan Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar.
2) Tingkat Pengaruh
Berdasarkan tabel uji-t telah dijelaskan bahwa pendapatan tenaga kerja perempuan penjual jagung rebus berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan rumah tangga di Kelurahan Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar, maka besarnya pengaruh tersebut dapat diketahui berdasarkan besarnya nilai R Square sebagaimana terlihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 2.   R Square (r2), Besarnya Tingkat Kontribusi Pendapatan Tenaga Kerja Perempuan Penjual Jagung Rebus (X) terhadap Pendapatan Rumah Tangga (Y) di Kelurahan Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar

Tabel tersebut di atas, menunjukkan bahwa besarnya pengaruh pendapatan tenaga kerja perempuan penjual jagung rebus terhadap Pendapatan Rumah Tangga di Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar adalah sebesar 0,930 atau sebesar 93%. Artinya bahwa sekitar 93% perubahan Pendapatan Rumah Tangga di Kelurahan Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar dapat dijelaskan oleh variabel pendapatan tenaga kerja perempuan penjual jagung rebus. Sedangkan sisanya sebesar 7% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.
Adapun persamaan regresinya adalah
Ŷ  =  346658,4+ 2,366 X 
Dengan memperhatikan setiap parameter estimate β, maka dapat dianalisis mengenai kontribusi variabel pendapatan tenaga kerja perempuan penjual jagung rebus terhadap Pendapatan Rumah Tangga di Kelurahan Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar sebagai berikut:
  1. b0 = 346658,4; artinya bahwa tanpa memperhitungkan pendapatan tenaga kerja perempuan penjual jagung rebus, maka besarnya Pendapatan Rumah Tangga di Kelurahan Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar (Y) adalah Rp. 346.658,4.
  2. b1 = 2,366; artinya bahwa setiap kenaikan 1 (satu) rupiah pendapatan tenaga kerja perempuan penjual jagung rebus, maka besarnya Pendapatan Rumah Tangga di Kelurahan Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar(Y) adalah Rp. 2,366.
Berdasarkan hasil analisis ini, telah memberikan jawaban terhadap hipotesis yang diajukan sebelumnya bahwa pendapatan tenaga kerja perempuan penjual jagung rebus berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan rumah tangga di Kelurahan Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar telah terbukti atau dengan kata lain hipotesis diterima.
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:
  1. Pendapatan Tenaga kerja perempuan penjual jagung rebus di Kelurahan Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar merupakan sumber pendapatan pokok keluarga.
  2. Pendapatan tenaga kerja perempuan penjual jagung rebus berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan rumah tangga di Kelurahan Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar.
B.     Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang telah di kemukakan, maka diberikan beberapa saran:
  1. Hendaknya ada perhatian khusus yang diberikan oleh pemerintah dalam mengembangkan usaha jagung rebus di Kelurahan Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar.
  2. Bagi pihak tenaga kerja perempuan penjual jagung rebus agar hendaknya lebih memperhatikan pelayanan, sehingga memberikan kesan tersendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Irwan. 2006. Sangkan Paran Gender, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Ali Muhammad. 1985. Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi. Bandung: Angkasa.
Cleves Mosse. 2007. Gender dan Pembangunan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Farhan Mutmainnah. 2006. Konstribusi Pendapatan Tenaga Kerja Wanita Terhadap Pendapatan Rumah Tangga(Kasus Pedagang pakaian di Pasar Pannampu di Kota Makassar), Skripsi yang belum diterbitkan.
Fitri Balasong Nur dan Kasmawati Hamid. 2006. Perempuan untuk Perempuan, Makassar: to@CC@e
Goode William J. 1995. Sosiologi Rumah Tangga, Jakarta: Bumi Aksara.
Mankiw N. Georgie. 2003. Pengantar Ekonomi Edisi ke 2 jilid 2. Jakarta: Erlangga
Nanga Muana. 2001. Makro Ekonomi Teori, Masalah dan Kebijakan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Rahardja Prathama dan Mandala Manurung. 2004. Pengantar Ilmu Ekonomi (Mikroekonomi dan Makroekonomi), Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Soekamto Sarjono. 2004. Sosiologi Rumah Tangga. Jakarta: Rieneka Cipta
Syahata Husein. 1998. Ekonomi Rumah Tangga Muslim. Jakarta: Gema Insani Press

Tidak ada komentar:

Posting Komentar