Abstrak
Ketenagakerjaan pada awalnya merupakan bidang yang berada
dalam ruang lingkup hukum privat, namun karena ketenagakerjaan diaanggap
menjadi bidang penting untuk diatur secara langsung oleh negara. Maka negara
turun tangan langsung dengan membuat regulasi yang mengatur mengenai
ketenagakerjaan.
Demi meningkatkan taraf hidup maka perlu dilakukan
pembangunan diberbagai aspek tidak terkecuali dengan pembangunan
ketenagakerjaan yang dilakukan atas asas keterpaduan melalui koordinasi
fungsional lintas sektoral pusat dan daerah. Dalam hal ini maksudnya adalah
asas pembangunan ketenagakerjaan, berlandaskan asas pembangunan nasional
terkhusus asas demokrasi pancasila, asas adil dan merata.
Kata kunci : Analisis
Ketenagakerjaan
Pendahuluan
Perencanaan kesempatan kerja
merupakan hal yang penting, mengingat tingginya tingkat pengangguran yang
menunjukkan kecenderungan meningkat dan keharusan menciptakan kesempatan kerja
bagi angkatan kerja baru setiap tahunnya. Di dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJM) 2004-2009, pemerintah telah menempatkan penciptaan
kesempatan kerja produktif sebagai salah satu sasaran pokok dalam agenda
meningkatkan kesejahteraan rakyat dan menurunkan tingkat pengangguran terbuka
dari 9,5 persen menjadi 5,1 persen pada akhir tahun 2009. Namun perencanaan ini
tidaklah mudah karena kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya membaik,
khususnya diukur dari laju pertumbuhan ekonomi nasional yang masih berada
dibawah 5 persen dalam periode 1998-2003. Dengan pertumbuhan ekonomi yang
rendah ini sulit bagi Indonesia untuk mampu secara signifikan menyerap tenaga
kerja baru atau tenaga kerja yang terkena PHK sejak tahun 1998, ini karena
untuk setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi, hanya 400 ribu tenaga kerja yang
dapat diserap (firdausy, 2004).
Jumlah atau besarnya penduduk
biasanya dikaitkan dengan pertumbuhan income
per capita suatu negara, yang secara kasar mencerminkan kemajuan
perekonomian negara, yang secara kasar mencerminkan kemajuan perekonomian
negara tersebut. Ada pendapat yang mengatakan bahwa jumlah penduduk yang besar
sangat menguntungkan bagi pembangunan ekonomi. Tetapi ada pula yang berpendapat
lain, yaitu jumlah penduduk yang sedikit yang dapat mempercepat proses
pembangunan ekonomi ke arah yang lebih baik. Disamping kedua pendapat ini, ada
pula pendapat yang mengatakan bahwa jumlah penduduk suatu negara harus seimbang
dengan jumlah sumber-sumber ekonominya, baru dapat diperoleh kenaikan
pendapatan nasionalnya. Hal ini berarti jumlah penduduk tidak boleh terlampau
sedikit tetapi juga tidak boleh terlampau banyak.
Jumlah penduduk yang makin
besar telah membawa akibat jumlah
angkatan kerja yang makin besar pula. Hal ini berarti makin besar pula jumlah
orang yang mencari pekerjaan atau menganggur. Agar dapat dicapai keadaan yang
seimbang, maka seyogyanya mereka semua dapat tertampung dalam suatu pekerjaan
yang cocok dan sesuai dengan keinginan serta keterampilannya mereka. Hal ini
akan membawa konsekuensi, bahwa perekonomian harus selalu menyediakan lapangan
pekerjaan bagi angkatan kerja baru.
Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas ada beberapa masalah yang harus dijelaskan dalam
analisis ini antara lain :
1. Bagaimana mewujudkan
pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan
kebutuhan pembangunan nasional dan daerah ?
2. Bagaimana keterkaitan
kesempatan kerja dengan pertumbuhan ekonomi ?
3. Bagaimana tingkat partisipasi
angkatan kerja terhadap pertumbuhan ekonomi daerah ?
4. Bagaimana strategi untuk
memperluas kesempatan kerja dalam upaya mengatasi pengangguran ?
Tujuan Analisis
Adapun
tujuan analisis yakni :
1. Untuk mengetahui pemerataan
kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan
pembangunan nasional dan daerah.
2. Untuk mengetahui keterkaitan
kesempatan kerja dengan pertumbuhan ekonomi.
3. Untuk mengetahui tingkat
partisipasi angkatan kerja dalam pertumbuhan ekonomi daerah.
4. Untuk mengetahui strategi
dalam memperluas kesempatan kerja yakni upaya mengatasi pengangguran.
Manfaat Analisis
Penelitian ini
diharapkan dapat bermanfaat, baik dari segi akademik maupun dari segi praktis:
1.
Sebagai sumber
informasi bagi pihak yang membutuhkan dalam mengetahui masalah tenaga kerja
yang terjadi di daerahnya.
2. Dapat
digunakan sebagai dokumentasi perpustakaan, studi banding di masa-masa yang
akan datang.
Pembahasan
Tenaga kerja yang berkualitas
merupakan modal yang sangat berharga bagi pertumbuhan ekonomi. Pendidikan
diakui secara luas sebagai unsur yang mendasar dari pertumbuhan ekonomi.
Payaman (1985: 20) berpendapat kemajuan suatu daerah sangat dipengaruhi oleh
kemampuan dan pendidikan sumber daya manusianya. Semakin tinggi tingkat
pendidikan para tenaga kerja maka diharapkan akan menghasilkan peningkatan
kinerja yang ada dan semakin baik kondisi sosialnya.
Masalah ketenagakerjaan di Sulawesi
Tenggara dalam skala kecil merupakan salah satu bidang yang cukup rawan, karena
secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan aspek pendidikan yang
berkembang. Disisi lain masalahnya cukup strategi karena tenaga kerja merupakan
faktor dominan dan mempunyai korelasi yang cukup kuat terhadap pembangunan dan
pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.
Karakteristik angkatan kerja
dipengaruhi oleh struktur umur dan jenis kelamin dimana proporsi penduduk usia
kerja cenderung meningkat dengan laju pertumbuhan yang semakin besar dari tahun
ke tahun sesuai dengan transisi demografi yang berlangsung di Sulawesi Tenggara.
Laju pertumbuhan penduduk usia kerja yang cepat dan meningkatnya TPAK
menyebabkan laju pertumbuhan angkatan kerja jauh meningkat. Dimana TPAK
penduduk Sulawesi Tenggara pada Tahun 2010 66,554 persen sehingga angkatan
kerja berjumlah 965,062 jiwa yang meningkat dengan laju pertumbuhan.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) merupakan salah
satu indikator ketenagakerjaan. TPAK mengindikasikan besarnya penduduk usia
kerja yang aktif secara ekonomi di suatu negara atau wilayah pada periode waktu
tertentu. Pada Tahun 2010 TPAK Sulawesi Tenggara mencapai 66,554 persen. Hal
ini menunjukkan bahwa penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi pada tahun
tersebut masih di bawah 70 persen sehingga Sulawesi Tenggara pada Tahun 2010
berada pada TPAK sedang. Ini disebabkan oleh peningkatan mutu sumber daya
manusia serta makin bertambahnya wanita yang berperan secara ekonomis diluar
mengurus rumah tangga.
Tingkat Pengangguran Terbuka
Pengangguran terbuka merupakan ukuran
pengangguran yang umum dipergunakan dalam menyatakan banyaknya jumlah
penganggur di suatu wilayah pada waktu tertentu. Biasanya dinyatakan dalam
besaran absolut atau suatu rate (TPT = Tingkat Pengangguran Terbuka). Di
Sulawesi Tenggara Tingkat Pengangguran Terbuka mencapai 1,6895. Hal ini
pengangguran terjadi merupakan akibat dari tidak sempurnanya pasar kerja,
keterbatasan-keterbatasan persaingan dan kepentingan mendesak dari
lembaga/institusi dalam perekonomian. Implikasinya supply tenaga kerja yang ada
di pasar kerja melebihi dari demand untuk mengisi kesempatan kerja yang
tercipta. Menurut Keynes, hal itu terjadi karena pasar bebas gagal menciptakan
lapangan kerja dan kebijakan pemerintah setempat menciptakan lapangan kerja
bagi sejumlah angkatan kerja yang ditawarkan.
Kenyataan yang ada, kondisi perubahan
politik dan sosial di suatu negara yang erat berkaitan dengan stabilitas
perekonomian tidak kalah berdampak terhadap kondisi pasar kerja. Memang tampak
seperti lingkaran permasalahan yang tidak terputus, tingginya pengangguran sering sebagai dampak ikutan dari rendahnya
pertumbuhan pendapatan di suatu wilayah. Seperti efek dari terpuruknya kondisi
perekonomian nasional yang berlarut-larut akibat krisis ekonomi yang
berkepanjangan, mengakibatkan jumlah orang yang menganggur secara drastis
semakin meningkat.
Laju Pertumbuhan Ekonomi
Perkembangan pembangunan ekonomi
ditandai dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat, penciptaan kesempatan
kerja serta pembagian pendapatan masyarakat yang semakin merata.
Salah satu ukuran yang dapat
digunakan adalah dengan menggunakan data pendapatan regional atau Produk
Domestik Bruto (PDB) yang merupakan salah satu indikator ekonomi untuk mengukur
total nilai barang dan jasa akhir dalam suatu perekonomian dan pendekatan yang
digunakan bisa melalui produksi, pendapatan atau pengeluaran.
Pada periode 1990 – 2004,
menggambarkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia cukup berfluktuasi. Hal ini
dibuktikan dengan besarnya PDB atas dasar harga konstan dengan tahun dasar
2000=100, bergerak dari 1.647,7 trilyun pada tahun 1990 menjadi 3.265,8 trilyun
pada tahun 2004 dan produktivitas nasional bergerak dari 22,4 juta menjadi 34,8
juta.
Produktivitas tenaga kerja,
perhitungannya dilakukan dengan membagi PDB per sektor dengan jumlah tenaga
kerja pada sektor yang sama. Dari hasil perhitungan dapat dilihat bahwa PDRB Sulawesi
Tenggara pada tahun 2008 untuk sektor industri pengolahan memiliki 887092,82
juta sedangkan sektor keuangan dan jasa perusahaan
memilki 576339,93 juta cenderung mempunyai nilai produktivitas yang lebih
tinggi dibandingkan dengan sektor yang lainnya. Tetapi pada tahun 2009 terjadi
penurunan, dimana sektor industri pengolahan memiliki 862645,26 juta hal ini
terjadi keadaan ekonomi Sulawesi Tenggara mengalami kemorosotan. Sedangkan pada
sektor keuangan dan jasa perusahaan mengalami peningkatan sebesar 618325,07
juta. Hal ini ditandai bahwa keadaan ekonomi Sulawesi Tenggara semakin membaik
dibanding pada tahun sebelumnya.
Strategi Peningkatan Kesempatan Kerja
Sebagai strategi peningkatan
kesempatan kerja yang diperlukan antara lain :
a. Dari sisi persediaan tenaga
kerja
-
Pengendalian jumlah penduduk dalam jangka panjang masih perlu
dipertahankan.
-
Pengendalian angkatan kerja dalam jangka pendek melalui
peningkatan pendidikan, yaitu dibedakan atas peningkatan kuantitas pendidikan
(perluasan fasilitas pendidikan, peningkatan kondisi perekonomian keluarga yang
mencegah angka putus sekolah dan peningkatan usia sekolah/wajib belajar 9
tahun) serta peningkatan kualitas pendidikan dan produktivitas tenaga kerja.
-
Pemerataan pembangunan infrastruktur secara merata sehingga
dapat mencegah migrasi desa-kota.
b. Dari sisi kebutuhan tenaga
kerja
-
Perluasan dan penciptaan kesempatan kerja melalui kebijakan
makro (seperti penyederhanaan mekanisme investasi, pengembangan sistem pajak
yang ramah pengembangan usaha, sistem kredit yang menggerakkan sektor riil),
kebijakan regional (melalui pengalokasian anggaran untuk pembangunan
infrastruktur yang menyerap tenaga kerja), kebijakan sektoral (di sektor
pertanian dapat dilakukan melalui penguatan kelembagaan (koperasi), membentuk
kelompok yang terdiri dari beberapa usaha kecil (UKM) dalam pengolahan hasil
pertanian, perbaikan teknik usaha tani, hingga pengembangan sistem pengemasan
sesuai dengan kebutuhan pasar di luar komunitas sedangkan di sektor industri
melalui penyederhanaan mekanisme investasi, penataan sistem keamanan yang lebih
baik, melakukan promosi peluang investasi daerah serta di sektor lainnya
melalui sistem regulasi dan perizinan usaha yang lebih sederhana) dan kebijakan
khusus (usaha kerajinan dan makanan bagi wanita di perdesaan, TKMT (Tenaga
Kerja Muda Terdidik) yaitu program perluasan kesempatan kerja bagi lulusan SLTA
ke perdesaan.
-
Pengembangan sistem link
and match dan informasi kerja.
Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut :
1.
Pada tahun 2010 diperkirakan TPAK penduduk Sulawesi Tenggara sebesar
66,554 persen. Jumlah angkatan kerja pada tahun 2010 berjumlah 965,062 jiwa
yang meningkat dengan laju pertumbuhan.
2.
Tingkat Pengangguran Terbuka Sulawesi Tenggara mencapai
1,6895. Hal ini pengangguran terjadi merupakan akibat dari tidak sempurnanya
pasar kerja, keterbatasan-keterbatasan persaingan dan kepentingan mendesak dari
lembaga/institusi dalam perekonomian. Serta tingginya pengangguran sering sebagai dampak ikutan dari rendahnya
pertumbuhan pendapatan di suatu wilayah.
3.
Strategi peningkatan kesempatan kerja yang perlu dilakukan antara lain
pengendalian jumlah penduduk dan angkatan kerja melalui peningkatan pendidikan
baik kuantitas ataupun kualitas sehingga akan mencegah meningkatnya persediaan
tenaga kerja yang disebabkan mereka yang putus sekolah, masa pendidikan yang
semakin panjang dan kualitas yang baik dengan keterampilan yang dimiliki
membuat angkatan kerja dapat bersaing merebut ataupun membuka kesempatan kerja
serta pemerataan pembangunan kota-desa dalam upaya mengurangi migrasi desa kota
untuk mencari pekerjaan dan fasilitas yang lebih baik.
Saran
1. Sebagai masukan bagi Pemerintah setempat guna
melihat tingkat tenaga kerja dan pengangguran yang terjadi di daerah terhadap pembangunan dan pertumbuhan
ekonomi daerah maupun nasional.
2.
Sebagai bahan referensi bagi
pembaca dalam perencanaan kesempatan kerja guna pengembangan wilayah.
Daftar Pustaka
Anonim. 2005. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) 2004 -2009. Sinar Grafika. Jakarta
Firdausy. 2004. Situasi Ketenagakerjaan dan
Kebijakan Ekonomi Mengatasi Pengangguran, Jurnal
Ekonomi dan Pembangunan Vol.XII (2). P2E-LIPI. Jakarta.
J. Simanjuntak, Payaman. 1985. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Lembaga Penerbit FEUI.
Jakarta.
Tim
Badan Pusat Statistik Seksi Neraca Wilayah Dan Analisis Statistik. 2010. Kota Kendari Dalam Angka 2010, Katalog BPS :
1403.7471. Kendari: Badan Pusat Statistik Kota Kendari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar