Rabu, 13 November 2013

JURNAL 2 : ANALISIS KETENAGAKERJAAN PROVINSI SULAWESI TENGGARA

Abstrak
Ketenagakerjaan pada awalnya merupakan bidang yang berada dalam ruang lingkup hukum privat, namun karena ketenagakerjaan diaanggap menjadi bidang penting untuk diatur secara langsung oleh negara. Maka negara turun tangan langsung dengan membuat regulasi yang mengatur mengenai ketenagakerjaan.
Demi meningkatkan taraf hidup maka perlu dilakukan pembangunan diberbagai aspek tidak terkecuali dengan pembangunan ketenagakerjaan yang dilakukan atas asas keterpaduan melalui koordinasi fungsional lintas sektoral pusat dan daerah. Dalam hal ini maksudnya adalah asas pembangunan ketenagakerjaan, berlandaskan asas pembangunan nasional terkhusus asas demokrasi pancasila, asas adil dan merata.
Kata kunci : Analisis Ketenagakerjaan
Pendahuluan
Perencanaan kesempatan kerja merupakan hal yang penting, mengingat tingginya tingkat pengangguran yang menunjukkan kecenderungan meningkat dan keharusan menciptakan kesempatan kerja bagi angkatan kerja baru setiap tahunnya. Di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM) 2004-2009, pemerintah telah menempatkan penciptaan kesempatan kerja produktif sebagai salah satu sasaran pokok dalam agenda meningkatkan kesejahteraan rakyat dan menurunkan tingkat pengangguran terbuka dari 9,5 persen menjadi 5,1 persen pada akhir tahun 2009. Namun perencanaan ini tidaklah mudah karena kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya membaik, khususnya diukur dari laju pertumbuhan ekonomi nasional yang masih berada dibawah 5 persen dalam periode 1998-2003. Dengan pertumbuhan ekonomi yang rendah ini sulit bagi Indonesia untuk mampu secara signifikan menyerap tenaga kerja baru atau tenaga kerja yang terkena PHK sejak tahun 1998, ini karena untuk setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi, hanya 400 ribu tenaga kerja yang dapat diserap (firdausy, 2004).
Jumlah atau besarnya penduduk biasanya dikaitkan dengan pertumbuhan income per capita suatu negara, yang secara kasar mencerminkan kemajuan perekonomian negara, yang secara kasar mencerminkan kemajuan perekonomian negara tersebut. Ada pendapat yang mengatakan bahwa jumlah penduduk yang besar sangat menguntungkan bagi pembangunan ekonomi. Tetapi ada pula yang berpendapat lain, yaitu jumlah penduduk yang sedikit yang dapat mempercepat proses pembangunan ekonomi ke arah yang lebih baik. Disamping kedua pendapat ini, ada pula pendapat yang mengatakan bahwa jumlah penduduk suatu negara harus seimbang dengan jumlah sumber-sumber ekonominya, baru dapat diperoleh kenaikan pendapatan nasionalnya. Hal ini berarti jumlah penduduk tidak boleh terlampau sedikit tetapi juga tidak boleh terlampau banyak.
Jumlah penduduk yang makin besar telah membawa akibat  jumlah angkatan kerja yang makin besar pula. Hal ini berarti makin besar pula jumlah orang yang mencari pekerjaan atau menganggur. Agar dapat dicapai keadaan yang seimbang, maka seyogyanya mereka semua dapat tertampung dalam suatu pekerjaan yang cocok dan sesuai dengan keinginan serta keterampilannya mereka. Hal ini akan membawa konsekuensi, bahwa perekonomian harus selalu menyediakan lapangan pekerjaan bagi angkatan kerja baru.
Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas ada beberapa masalah yang harus dijelaskan dalam analisis ini antara lain :
1.     Bagaimana mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah ?
2.     Bagaimana keterkaitan kesempatan kerja dengan pertumbuhan ekonomi ?
3.     Bagaimana tingkat partisipasi angkatan kerja terhadap pertumbuhan ekonomi daerah ?
4.     Bagaimana strategi untuk memperluas kesempatan kerja dalam upaya mengatasi pengangguran ?
Tujuan Analisis                                                 
Adapun tujuan analisis yakni :
1.     Untuk mengetahui pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah.
2.     Untuk mengetahui keterkaitan kesempatan kerja dengan pertumbuhan ekonomi.
3.     Untuk mengetahui tingkat partisipasi angkatan kerja dalam pertumbuhan ekonomi daerah.
4.     Untuk mengetahui strategi dalam memperluas kesempatan kerja yakni upaya mengatasi pengangguran.
Manfaat Analisis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, baik dari segi akademik maupun dari segi praktis:
1.     Sebagai sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan dalam mengetahui masalah tenaga kerja yang terjadi di daerahnya.
2.     Dapat digunakan sebagai dokumentasi perpustakaan, studi banding di masa-masa yang akan datang.
Pembahasan                                          
Tenaga kerja yang berkualitas merupakan modal yang sangat berharga bagi pertumbuhan ekonomi. Pendidikan diakui secara luas sebagai unsur yang mendasar dari pertumbuhan ekonomi. Payaman (1985: 20) berpendapat kemajuan suatu daerah sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan pendidikan sumber daya manusianya. Semakin tinggi tingkat pendidikan para tenaga kerja maka diharapkan akan menghasilkan peningkatan kinerja yang ada dan semakin baik kondisi sosialnya.
Masalah ketenagakerjaan di Sulawesi Tenggara dalam skala kecil merupakan salah satu bidang yang cukup rawan, karena secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan aspek pendidikan yang berkembang. Disisi lain masalahnya cukup strategi karena tenaga kerja merupakan faktor dominan dan mempunyai korelasi yang cukup kuat terhadap pembangunan dan pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.
Karakteristik angkatan kerja dipengaruhi oleh struktur umur dan jenis kelamin dimana proporsi penduduk usia kerja cenderung meningkat dengan laju pertumbuhan yang semakin besar dari tahun ke tahun sesuai dengan transisi demografi yang berlangsung di Sulawesi Tenggara. Laju pertumbuhan penduduk usia kerja yang cepat dan meningkatnya TPAK menyebabkan laju pertumbuhan angkatan kerja jauh meningkat. Dimana TPAK penduduk Sulawesi Tenggara pada Tahun 2010 66,554 persen sehingga angkatan kerja berjumlah 965,062 jiwa yang meningkat dengan laju pertumbuhan.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja                 
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) merupakan salah satu indikator ketenagakerjaan. TPAK mengindikasikan besarnya penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi di suatu negara atau wilayah pada periode waktu tertentu. Pada Tahun 2010 TPAK Sulawesi Tenggara mencapai 66,554 persen. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi pada tahun tersebut masih di bawah 70 persen sehingga Sulawesi Tenggara pada Tahun 2010 berada pada TPAK sedang. Ini disebabkan oleh peningkatan mutu sumber daya manusia serta makin bertambahnya wanita yang berperan secara ekonomis diluar mengurus rumah tangga.
Tingkat Pengangguran Terbuka
Pengangguran terbuka merupakan ukuran pengangguran yang umum dipergunakan dalam menyatakan banyaknya jumlah penganggur di suatu wilayah pada waktu tertentu. Biasanya dinyatakan dalam besaran absolut atau suatu rate (TPT = Tingkat Pengangguran Terbuka). Di Sulawesi Tenggara Tingkat Pengangguran Terbuka mencapai 1,6895. Hal ini pengangguran terjadi merupakan akibat dari tidak sempurnanya pasar kerja, keterbatasan-keterbatasan persaingan dan kepentingan mendesak dari lembaga/institusi dalam perekonomian. Implikasinya supply tenaga kerja yang ada di pasar kerja melebihi dari demand untuk mengisi kesempatan kerja yang tercipta. Menurut Keynes, hal itu terjadi karena pasar bebas gagal menciptakan lapangan kerja dan kebijakan pemerintah setempat menciptakan lapangan kerja bagi sejumlah angkatan kerja yang ditawarkan.
Kenyataan yang ada, kondisi perubahan politik dan sosial di suatu negara yang erat berkaitan dengan stabilitas perekonomian tidak kalah berdampak terhadap kondisi pasar kerja. Memang tampak seperti lingkaran permasalahan yang tidak terputus, tingginya pengangguran  sering sebagai dampak ikutan dari rendahnya pertumbuhan pendapatan di suatu wilayah. Seperti efek dari terpuruknya kondisi perekonomian nasional yang berlarut-larut akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan, mengakibatkan jumlah orang yang menganggur secara drastis semakin meningkat.
Laju Pertumbuhan Ekonomi                           
Perkembangan pembangunan ekonomi ditandai dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat, penciptaan kesempatan kerja serta pembagian pendapatan masyarakat yang semakin merata.
Salah satu ukuran yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan data pendapatan regional atau Produk Domestik Bruto (PDB) yang merupakan salah satu indikator ekonomi untuk mengukur total nilai barang dan jasa akhir dalam suatu perekonomian dan pendekatan yang digunakan bisa melalui produksi, pendapatan atau pengeluaran.
Pada periode 1990 – 2004, menggambarkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia cukup berfluktuasi. Hal ini dibuktikan dengan besarnya PDB atas dasar harga konstan dengan tahun dasar 2000=100, bergerak dari 1.647,7 trilyun pada tahun 1990 menjadi 3.265,8 trilyun pada tahun 2004 dan produktivitas nasional bergerak dari 22,4 juta menjadi 34,8 juta.
Produktivitas tenaga kerja, perhitungannya dilakukan dengan membagi PDB per sektor dengan jumlah tenaga kerja pada sektor yang sama. Dari hasil perhitungan dapat dilihat bahwa PDRB Sulawesi Tenggara pada tahun 2008 untuk sektor industri pengolahan memiliki 887092,82 juta sedangkan sektor keuangan dan jasa  perusahaan memilki 576339,93 juta cenderung mempunyai nilai produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor yang lainnya. Tetapi pada tahun 2009 terjadi penurunan, dimana sektor industri pengolahan memiliki 862645,26 juta hal ini terjadi keadaan ekonomi Sulawesi Tenggara mengalami kemorosotan. Sedangkan pada sektor keuangan dan jasa perusahaan mengalami peningkatan sebesar 618325,07 juta. Hal ini ditandai bahwa keadaan ekonomi Sulawesi Tenggara semakin membaik dibanding pada tahun sebelumnya.
Strategi Peningkatan Kesempatan Kerja        
Sebagai strategi peningkatan kesempatan kerja yang diperlukan antara lain :
a.     Dari sisi persediaan tenaga kerja
-        Pengendalian jumlah penduduk dalam jangka panjang masih perlu dipertahankan.
-        Pengendalian angkatan kerja dalam jangka pendek melalui peningkatan pendidikan, yaitu dibedakan atas peningkatan kuantitas pendidikan (perluasan fasilitas pendidikan, peningkatan kondisi perekonomian keluarga yang mencegah angka putus sekolah dan peningkatan usia sekolah/wajib belajar 9 tahun) serta peningkatan kualitas pendidikan dan produktivitas tenaga kerja.
-        Pemerataan pembangunan infrastruktur secara merata sehingga dapat mencegah migrasi desa-kota.
b.     Dari sisi kebutuhan tenaga kerja
-        Perluasan dan penciptaan kesempatan kerja melalui kebijakan makro (seperti penyederhanaan mekanisme investasi, pengembangan sistem pajak yang ramah pengembangan usaha, sistem kredit yang menggerakkan sektor riil), kebijakan regional (melalui pengalokasian anggaran untuk pembangunan infrastruktur yang menyerap tenaga kerja), kebijakan sektoral (di sektor pertanian dapat dilakukan melalui penguatan kelembagaan (koperasi), membentuk kelompok yang terdiri dari beberapa usaha kecil (UKM) dalam pengolahan hasil pertanian, perbaikan teknik usaha tani, hingga pengembangan sistem pengemasan sesuai dengan kebutuhan pasar di luar komunitas sedangkan di sektor industri melalui penyederhanaan mekanisme investasi, penataan sistem keamanan yang lebih baik, melakukan promosi peluang investasi daerah serta di sektor lainnya melalui sistem regulasi dan perizinan usaha yang lebih sederhana) dan kebijakan khusus (usaha kerajinan dan makanan bagi wanita di perdesaan, TKMT (Tenaga Kerja Muda Terdidik) yaitu program perluasan kesempatan kerja bagi lulusan SLTA ke perdesaan.
-        Pengembangan sistem link and match dan informasi kerja.
Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.     Pada tahun 2010 diperkirakan TPAK penduduk Sulawesi Tenggara sebesar 66,554 persen. Jumlah angkatan kerja pada tahun 2010 berjumlah 965,062 jiwa yang meningkat dengan laju pertumbuhan.
2.     Tingkat Pengangguran Terbuka Sulawesi Tenggara mencapai 1,6895. Hal ini pengangguran terjadi merupakan akibat dari tidak sempurnanya pasar kerja, keterbatasan-keterbatasan persaingan dan kepentingan mendesak dari lembaga/institusi dalam perekonomian. Serta tingginya pengangguran  sering sebagai dampak ikutan dari rendahnya pertumbuhan pendapatan di suatu wilayah.
3.     Strategi peningkatan kesempatan kerja yang perlu dilakukan antara lain pengendalian jumlah penduduk dan angkatan kerja melalui peningkatan pendidikan baik kuantitas ataupun kualitas sehingga akan mencegah meningkatnya persediaan tenaga kerja yang disebabkan mereka yang putus sekolah, masa pendidikan yang semakin panjang dan kualitas yang baik dengan keterampilan yang dimiliki membuat angkatan kerja dapat bersaing merebut ataupun membuka kesempatan kerja serta pemerataan pembangunan kota-desa dalam upaya mengurangi migrasi desa kota untuk mencari pekerjaan dan fasilitas yang lebih baik.
Saran
1.     Sebagai masukan bagi Pemerintah setempat guna melihat tingkat tenaga kerja dan pengangguran yang  terjadi di daerah terhadap pembangunan dan pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.
2.    Sebagai bahan referensi bagi pembaca dalam perencanaan kesempatan kerja guna pengembangan wilayah.
Daftar Pustaka
Anonim.   2005. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004 -2009. Sinar Grafika. Jakarta
Firdausy. 2004. Situasi Ketenagakerjaan dan Kebijakan Ekonomi Mengatasi Pengangguran, Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Vol.XII (2). P2E-LIPI. Jakarta.
J. Simanjuntak, Payaman. 1985. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Lembaga Penerbit FEUI. Jakarta.
Tim Badan Pusat Statistik Seksi Neraca Wilayah Dan Analisis Statistik. 2010. Kota Kendari Dalam Angka 2010, Katalog BPS : 1403.7471. Kendari: Badan Pusat Statistik Kota Kendari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar